TANTU
PANGGELARAN - TERJEMAHAN
Semoga tak ada halangan.
Inilah kitab Tantu Panggelaran, yang
dipersembahkan oleh Tuanku, semua (harus) berdiam diri untuk mengetahuinya; nah
...! nah ...!, buatlah dirimu nyaman di dalam mendengarkan cerita tentang
"Pulau Jawa Pada Zaman Purbakala".
(Alkisah pada zaman itu) belum ada
manusia, bahkan Gunung Mahameru belum ada di pulau Jawa. Adapun keberadaan
Gunung Mandalagiri, yakni gunung yang besar dan tinggi itu, yang dijadikan
contoh tersebut, (masih) berada di bumi Jambudipa (India). Oleh karena itu,
pulau Jawa bergoyang-goyang, selalu bergerak-gerak, berguncang-guncang, sebab
belum ada gunung Mandara, bahkan manusia. Oleh karena itu, Bhatara Jagatpramana
berdiri, dia mencipta pulau Jawa bersama Bhatari Parameswari, sehingga
terdapatlah Gunung Dihyang (Dieng), tempat Bhatara mencipta. Demikianlah
ceritanya.
Lama sekali Bhatara mengadakan ciptaan,
dia memerintahkan Brahma Wisnu membuat manusia. Nah, tanpa membantah Brahma
Wisnu membuat manusia. Tanah dikepal-kepalnya dan dibuat manusia yang sangat
elok rupanya seperti rupa dewata. Manusia laki-laki dibuat oleh Brahma, manusia
perempuan dibuat oleh Wisnu. Manusia-manusia buatan Brahma Wisnu itu dipertemukan,
mereka saling rukun bersama, saling kasih mengasihi. Lalu mereka beranak,
bercucu, berlipat-lipat banyaknya, berkembang-biak, menjadi banyaklah jumlah
manusia. Namun (mereka hidup) tanpa rumah, laki-perempuan telanjang di hutan,
menaungi/melindungi anak-cucu, sebab belum ada pekerjaan yang dibuatnya, belum
ada yang (dapat) ditirunya, tanpa celana, tanpa busana, tanpa selendang, tanpa
kain panjang (basahan), tanpa ikat pinggang (kendit), tanpa kuncung, tanpa ikat
kepala. Berucap tetapi tak tahu apa yang dikatakannya, tidak tahu artinya,
daun-daunan dan buah-buahan dimakannya. Demikianlah asal-muasal manusia pada
zaman purba.
Maka dari itu para dewata berkumpul dan
bermusyawarah menghadap kepada Bhatara Guru. Bhatara Jagatnatha itu menyuruh
para dewata membuat tempat tinggal di seluruh Pulau Jawa. Demikianlah kata
Bhatara Mahakarana: "Anakku, Brahma, turunlah engkau ke Pulau Jawa.
Pertajamlah benda-benda tajam, misalnya: panah, parang, pahat, pantek, kapak,
beliung, segala pekerjaan manusia. Engkau akan disebut pandai-besi. Engkau akan
mempertajam benda-benda tajam itu di tempat yang bernama Winduprakasa. Ibu jari
(kw. empu) kedua kakimu mengapit dan menggembleng, besi anak panah dikikir.
Panah itu menjadi tajam oleh ibu jari kedua kaki, maka dari itu engkau akan
disebut Empu Sujiwana sebagai pandai-besi, karena ibu jari/empu dari kakimu
mempertajam besi. Oleh karena itu, tukang pandai-besi disebut empu, karena ibu
jari kakimu menjadi alat bekerja. Demikianlah pesanku kepada anakku.
Lagi pesanku kepada anakku Wiswakarmma.
Turunlah ke Pulau Jawa membuat rumah, biar dirimu ditiru oleh manusia. Sebab
itu, engkau dinamai Hundahagi (membangun).
Adapun engkau Iswara. Turunlah ke Pulau
Jawa. Ajarlah manusia ajaran berkata-kata dengan bahasa, apalagi ajaran tentang
Dasasila (sepuluh hal yang utama) dan Pancasiska (lima hukum/tata tertib).
Engkau menjadi guru dari kepala-kepala desa, sehingga engkau dinamai Guru Desa
di Pulau Jawa.
Adapun engkau Wisnu. Turunlah engkau ke
Pulau Jawa. Biarlah segala perintahmu dituruti oleh manusia. Segala tingkah
lakumu ditiru oleh manusia. Engkau adalah guru manusia, hendaknya engkau
menguasai bumi.
Adapun engkau Mahadewa, turunlah engkau
ke Pulau Jawa. Hendaknya engkau menjadi tukang pandai emas dan pembuat pakaian
manusia.
Bhagawan Ciptagupta hendaknya melukis
dan mewarnai perhiasan, serta membuat hiasan yang serupa dengan ciptaan,
menggunakan alat ibu jari tanganmu. Oleh karena itu engkau akan dinamai Empu
Ciptangkara sebagai pelukis."
Demikianlah pesan Bhatara Guru kepada
para dewata semua. Mereka bersama-sama turun ke Pulau Jawa. Brahma menjadi
tukang pandai-besi. Lima makhluk besar dimintai pertolongannya, yakni bumi,
air, api, angin, angkasa. Bumi sebagai landasan/paron, air sebagai penjepit,
api sebagai pembakar, angin sebagai peniup api, angkasa sebagai palu. Oleh
karena itu, tempat itu dinamai Gunung Brahma (Bromo), tempat Brahma menjadi
pandai besi, kata sang pencerita. Palu dan landasannya sebesar pohon tal,
penjepitnya/guntingnya sebesar pohon pinang, sang Bayu (angin) keluar dari goa,
sang Agni (api) selalu ada siang dan malam. Itulah tempat Brahma mengerjakan
pekerjaan pandai-besi. Demikianlah ceritanya.
Bhagawan Wismakarmma turun membangun
rumah. Manusia meniru membuat rumah. Lalu mereka berumah tangga. Oleh karena
itu, tempat itu nantinya akan disebut Desa Medangkamulan, tempat awal-mula
manusia berumah tangga. Demikianlah ceritanya.
Bhatara Iswara turun mengajarkan
kata-kata baik, bahkan tentang Dasasila dan Pancasiska. Dia bergelar Guru Desa
di sana. Bhatara Wisnu turun bersama dengan Bhatari Sri, ratu dari awang-awang
(angkasa). A berarti hal yang tak ada, Wa berarti hal yang luhur, H yang
berarti Bhatara/dewa; sehingga Wisnu disebut Rahyang Kandyawan. Bhatari Sri
disebut Sang Kanyawan di negeri Medanggana. Demikianlah asal-mula adanya
negeri/negara. Demikianlah ceritanya. Dia memberi ajaran kepada manusia,
sehingga mereka mengetahi cara memintal, menenun, bercelana, berpakaian,
berkain, beselendang. Bhatara Mahadewa turun menjadi tukang pandai-emas.
Bhagawan Ciptaguna turun menjadi pelukis.
Lagi tentang Kandyawan. Dia mempunyai
anak lima. Sang Mangukuhan, nama anak yang paling tua. Sang Sandang-garba nama
anak kedua. Sang Katung-malaras nama anak yang tengah. Sang Karung Kalah nama
kakak dari anak yang bungsu. Sang Werti Kandayun nama anak yang bungsu.
Kemudian kendaraan Bhatari Sri datang,
yaitu empat burung, yakni burung perkutut, burung puter, burung deruk merah,
burung merpati hutan. Mereka dikejar-kejar oleh lima anak itu dan disusul
berderet di warung, kemudian dilukai oleh Sang Werti Kandayun. Jatuhlah
tembolok burung-burung itu: Tembolok burung perkutut berisi biji putih,
tembolok burung merpati hitam berisi biji hitam, tembolok burung deruk merah
berisi biji merah, tembolok burung puter berisi biji kuning, semerbak harum
baunya. Kelima anak itu bergembira. Dimakanlah (biji kuning) itu sampai habis.
Oleh karena itulah sampai sekarang tidak ada biji kuning, sebab habis dimakan
habis oleh kelima anak itu. Sang Mangukuhan menanam biji putih, merah dan hitam
itu. Lalu mereka menjadi padi nantinya. Demikian juga kulit biji yang kuning
ditanamnya, yang akhirnya menjadi kunyit. Demikian genaplah biji empat warna
itu sampai sekarang.
Lagi tentang Bhatara Mahakarana membuat
tempat tinggal di pulau Jawa, meninggalkan tempat dewa, hingga tersebar di muka
bumi, berderet-deret tanpa terputus, beragam tanpa ada yang hancur.
Demikianlah halnya.
Demikianlah halnya.